Dari “Saya Tidak Bisa” Menjadi “Saya Mau Mencoba”
Ketika
pembelajaran Seni Rupa disesuaikan dengan kemampuan setiap anak
Oleh: Ifan Setiawan
Dalam
pembelajaran Seni Rupa, saya pernah menghadapi sebuah situasi yang membuat saya
berpikir kembali tentang cara saya mengajar. Ketika tugas menggambar diberikan,
tidak semua peserta didik langsung mengambil pensil dan mulai bekerja.
Sebagian
peserta didik tampak antusias. Mereka segera menentukan apa yang akan digambar
dan mulai memenuhi kertas mereka dengan berbagai bentuk. Namun, sebagian
lainnya justru diam. Ada yang terlalu lama melihat kertas kosong di hadapannya.
Ada pula yang berkata, “Saya tidak bisa menggambar, Pak.”
Kalimat
tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang guru Seni Rupa,
kalimat “saya tidak bisa menggambar” sebenarnya menjadi sesuatu yang perlu
diperhatikan.
Apakah
benar peserta didik tersebut tidak bisa menggambar? Atau jangan-jangan tugas
yang diberikan belum sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya?
Tidak Semua Peserta Didik
Memulai dari Titik yang Sama
Dalam
satu kelas, peserta didik memiliki pengalaman dan kemampuan yang berbeda-beda.
Ada peserta didik yang sejak kecil senang menggambar. Ada yang sudah terbiasa
mengikuti berbagai kegiatan seni. Namun, ada juga yang jarang sekali menggambar
dan masih merasa kesulitan membuat bentuk-bentuk sederhana.
Perbedaan
tersebut menjadi tantangan ketika semua peserta didik diberikan tugas yang
sama.
Saya
menyadari bahwa memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada
seluruh peserta didik tidak selalu berarti memberikan pembelajaran yang adil.
Bagi peserta didik yang sudah memiliki kemampuan menggambar cukup baik, tugas
tersebut mungkin terasa mudah. Namun, bagi peserta didik yang masih berada pada
tahap awal, tugas yang sama bisa terasa terlalu sulit.
Ketika
seorang anak merasa tugas yang dihadapinya terlalu sulit, sering kali yang
muncul bukan hanya kesulitan dalam mengerjakan. Rasa percaya dirinya juga dapat
berkurang.
Ia
mulai membandingkan hasil gambarnya dengan teman-temannya. Ia merasa hasil
karyanya kurang bagus. Akhirnya, ia memilih untuk tidak memulai daripada
mencoba dan merasa gagal.
Dari
situlah saya mulai memahami bahwa tidak semua peserta didik dapat diperlakukan
dengan cara belajar yang sama.
Menyesuaikan Pembelajaran
dengan Kemampuan Peserta Didik
Berangkat
dari pengalaman tersebut, saya mencoba menerapkan prinsip Teaching at the
Right Level atau TaRL.
Secara
sederhana, TaRL menekankan bahwa pembelajaran perlu dimulai dari tingkat
kemampuan peserta didik saat ini. Artinya, guru tidak hanya melihat usia atau
kelas peserta didik, tetapi juga memperhatikan kemampuan aktual yang dimiliki
sebelum menentukan kegiatan dan bentuk pembelajaran
Dalam
pendekatan TaRL, kemampuan awal peserta didik dipetakan terlebih dahulu.
Peserta didik kemudian dapat memperoleh kegiatan dan pembelajaran yang
disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Prinsip inilah yang saya coba terapkan
secara adaptif dalam pembelajaran Seni Rupa.
Saya
mulai dengan memperhatikan hasil karya peserta didik sebelumnya dan mengamati
kemampuan mereka ketika mengikuti kegiatan menggambar. Dari pengamatan
tersebut, saya melihat bahwa kemampuan peserta didik dapat dibedakan secara
umum ke dalam beberapa tingkat.
Ada
peserta didik yang masih membutuhkan bimbingan dasar, ada yang sudah cukup
mampu mengembangkan gambar, dan ada pula yang siap menerima tantangan yang
lebih kompleks.
Pengelompokan
tersebut tidak dimaksudkan untuk memberi label kepada peserta didik. Tidak ada
peserta didik yang diberi tahu bahwa dirinya termasuk kelompok tertentu.
Tujuannya semata-mata agar setiap peserta didik mendapatkan tantangan belajar
yang sesuai dengan kemampuannya
Bagi
saya, inilah bagian yang paling relevan dari prinsip TaRL dalam pembelajaran
Seni Rupa: guru terlebih dahulu memahami titik awal peserta didik, kemudian
menentukan tantangan belajar yang sesuai untuk membantunya berkembang.
Satu Pembelajaran, Tantangan
yang Berbeda
Dalam
pembelajaran menggambar, peserta didik yang masih berada pada tahap awal
diberikan tugas yang lebih sederhana. Misalnya, mereka diminta menggambar satu
objek alam benda, seperti buah, vas bunga, botol, atau cangkir, dengan
memperhatikan bentuk dasar dan proporsi.
Peserta
didik yang memiliki kemampuan lebih berkembang dapat diberikan tugas yang lebih
kompleks, misalnya menggambar beberapa objek alam benda dalam satu komposisi,
seperti buah, botol, gelas, dan kain sederhana.
Sementara
itu, peserta didik yang sudah memiliki kemampuan lebih baik diberikan tantangan
yang lebih luas. Mereka dapat menggambar komposisi alam benda atau suasana
tertentu dengan memperhatikan prinsip-prinsip Seni Rupa, seperti keseimbangan,
proporsi, komposisi, gelap terang, serta kesatuan dalam sebuah karya.
Dengan
cara tersebut, peserta didik tetap belajar dalam satu tema yang sama, tetapi
setiap anak mendapatkan tantangan yang sesuai dengan tahap belajarnya.
Peserta
didik yang masih belajar dasar tidak langsung merasa tertinggal. Sebaliknya,
peserta didik yang sudah memiliki kemampuan lebih baik juga tetap mendapatkan
ruang untuk berkembang.
Menuntun, Bukan Menyeragamkan
Pengalaman
tersebut mengingatkan saya pada pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang hakikat
pendidikan. Salah satu gagasan yang sangat dikenal adalah bahwa pendidikan
merupakan proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
Bagi
saya, kata menuntun memiliki makna yang sangat penting.
Menuntun
tidak selalu berarti membawa semua anak melalui jalan yang sama. Seorang guru
perlu memahami bahwa setiap peserta didik datang ke kelas dengan pengalaman,
kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda.
Dalam
pembelajaran Seni Rupa, perbedaan tersebut terlihat dengan jelas.
Ada
peserta didik yang sejak awal sudah percaya diri ketika memegang pensil dan
kertas. Ada yang mampu membayangkan bentuk dan menuangkannya ke dalam gambar.
Namun, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama hanya untuk berani membuat
garis pertama.
Karena
itu, memberikan perlakuan yang sama belum tentu selalu berarti memberikan
kesempatan yang sama.
Peserta
didik yang sudah memiliki kemampuan lebih baik tetap membutuhkan tantangan agar
kemampuannya berkembang. Sementara peserta didik yang masih berada pada tahap
awal membutuhkan bimbingan dan tugas yang memungkinkan mereka mengalami proses
belajar secara bertahap.
Di
sinilah saya belajar bahwa tugas guru bukanlah membuat semua peserta didik
menghasilkan karya yang sama.
Tugas
guru adalah membantu setiap peserta didik berkembang dari titik awalnya
masing-masing.
Mungkin
ada seorang peserta didik yang hari ini menghasilkan gambar lebih sederhana
dibandingkan teman-temannya. Namun, jika hari ini ia sudah lebih berani mencoba
dibandingkan kemarin, maka di sana juga telah terjadi perkembangan.
Bagi
saya, pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan pertanyaan, “Siapa yang
paling mampu?”
Kadang
pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Dari
mana anak ini memulai, dan sejauh mana ia telah berkembang?”
Tugas Guru Bukan Hanya
Memberikan Tugas
Pengalaman
tersebut mengingatkan saya bahwa menjadi guru bukan sekadar menjelaskan materi,
kemudian memberikan tugas, dan menilai hasil akhirnya.
Guru
juga perlu memperhatikan bagaimana peserta didik memulai proses belajarnya.
Ada
peserta didik yang cukup diberikan contoh, lalu mampu bekerja secara mandiri.
Ada yang membutuhkan penjelasan secara bertahap. Ada pula yang baru berani
memulai setelah mendapatkan dorongan dan keyakinan bahwa dirinya mampu mencoba.
Dalam
proses pembelajaran tersebut, saya memberikan bentuk bimbingan yang berbeda
sesuai kebutuhan peserta didik. Saya juga menyiapkan contoh-contoh visual untuk
membantu mereka memahami langkah-langkah menggambar.
Peserta
didik yang masih kesulitan tidak langsung diberi jawaban. Mereka dibimbing
untuk melihat bentuk dasar objek, mengamati perbandingan ukuran, kemudian
mencoba menuangkannya ke dalam gambar.
Hal
sederhana seperti ini ternyata memberikan perubahan dalam suasana pembelajaran.
Peserta
didik yang sebelumnya hanya melihat kertas kosong mulai berani membuat garis
pertama. Mereka yang awalnya mengatakan tidak bisa mulai mencoba. Perlahan,
rasa ragu berubah menjadi keberanian untuk menyelesaikan karya.
Dan
bagi saya, mungkin di situlah salah satu hal terpenting dalam pembelajaran Seni
Rupa: bukan hanya menghasilkan gambar yang bagus, tetapi membantu peserta didik
berani memulai dan percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses.
Setiap Anak Memiliki Titik
Awal yang Berbeda
Dalam
pendidikan, kita sering kali lebih mudah melihat hasil akhir daripada proses
yang dilalui peserta didik.
Kita
melihat gambar yang sudah selesai. Kita melihat nilai yang diperoleh. Kita
melihat siapa yang menjadi terbaik.
Namun,
kita terkadang lupa melihat dari mana setiap anak memulai.
Seorang
peserta didik mungkin menghasilkan karya yang sederhana, tetapi karya tersebut
merupakan hasil dari keberanian pertamanya untuk mencoba. Sementara peserta didik
lain mungkin mampu menghasilkan karya yang lebih kompleks karena telah memiliki
pengalaman sebelumnya.
Karena
itu, membandingkan hasil akhir saja tidak selalu cukup untuk memahami
perkembangan peserta didik.
Setiap
anak memiliki titik awal, kecepatan belajar, minat, dan kemampuan yang berbeda.
Di
sinilah pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik menjadi
penting. Bukan untuk membedakan nilai setiap anak, tetapi untuk memberikan
kesempatan belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhannya
Ketika Pembelajaran Memberikan
Ruang untuk Bertumbuh
Penerapan
pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik memberikan
pengalaman berharga bagi saya sebagai seorang pendidik.
Saya
melihat peserta didik yang sebelumnya pasif menjadi lebih terlibat. Mereka
lebih berani mencoba karena tugas yang diberikan tidak langsung terasa sebagai
sesuatu yang terlalu berat.
Hasil
karya yang muncul pun menjadi lebih beragam. Ada karya yang sederhana, ada yang
berkembang, dan ada yang lebih kompleks. Namun, setiap karya memiliki prosesnya
masing-masing.
Pengalaman
tersebut membuat saya semakin memahami bahwa pembelajaran yang baik bukan
berarti semua peserta didik harus menghasilkan karya yang sama.
Pembelajaran
yang baik adalah ketika setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar,
mencoba, mengalami kesulitan, mendapatkan bimbingan, dan kemudian berkembang.
Dalam
kelas Seni Rupa, mungkin tidak semua peserta didik akan menjadi pelukis atau
seniman. Namun, setiap peserta didik tetap berhak mendapatkan kesempatan untuk
menemukan kemampuan yang dimilikinya.
Dan mungkin, sebelum seorang anak mengatakan, “Saya tidak bisa,” tugas seorang guru adalah membantu menemukan cara agar ia berani berkata:
“Saya belum bisa, tetapi saya mau mencoba.”
Referensi :
Azhari, A., & Yuliana, A. (2025). Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Pendekatan Teaching At The Right Level (TaRL). PTK: Jurnal Tindakan Kelas, 5(2). https://doi.org/10.53624/ptk.v5i2.559
Febriya, D., Rahayu, A., Budiyanti, F., Morina, I., & Marbun, F. H. (2025). JURNAL KOMPETENSI GURU INDONESIA Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD Kelas V pada Mata Pelajaran Seni Rupa Menggunakan Model Pembelajaran Project Based-Learning (PjBL) dan Pendekatan Teaching at The Right Level (TaRL) di SDN 131/IV Kota Jambi (Vol. 1). https://online-journal.unja.ac.id/jkomgi/index
Wardani, Z. (2025). Efektivitas Strategi Pembelajaran Diferensial dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Menengah. Jurnal Pelita Ilmu Pendidikan, 3, 37–40.
Yulia, I., & Mareza, L. (n.d.). PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA PELAJARAN SENI BUDAYA DAN PRAKARYA DI SD MUHAMMADIYAH PURWOKERTO.
0 Response to "Dari “Saya Tidak Bisa” Menjadi “Saya Mau Mencoba”"
Posting Komentar